لاَ إِلَهَ إِلَّا الله المَلِكُ الحَقُّ المُبِيْنُ ۝ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَادِقُ الوَعْدِ الأَمِيْنُ

Tiada tuhan selain Allah Yang Maha Menguasai Lagi Maha Benar Muhammad adalah utusan Allah, Orang Yang Benar Janjinya lagi Dapat Dipercaya

Nasihat Guru

Barangsiapa kenal dirinya, maka ia kenal dengan Tuhannya

Percaya Kepada Masyarakat

C. Percaya Kepada Masyarakat



a.       Wahai anak-anakku, setelah kamu sekalian percaya kepada diri sendiri, percaya kepada Allah Tuhan yang Maha Esa dan selanjutnya percaya kepada masyarakat, dari masyarakat yang kecil sampai kepada masyarakat yang besar.

b.      Sedangkan masyarakat itu terdiri dari tiga golongan yaitu:
        i.      Golongan Ash-habul Yamiin (masyarakat yang beriman)
       ii.      Golongan Ash-habul Syimal (masyarakat yang tidak beriman)
      iii.      Golongan Ash-habul Muqarrabun (masyarakat yang mendekatkan diri dengan yakin kepada Allah)

III. Wahai anak-anakku, dengar nasihatku ini:
a. Kamu semuanya ini adalah Raja (Pemimpin), sedangkan yang mengangkat kamu selaku Raja (Pemimpin) itu adalah Allah swt.
b. Sudah barang tentu tiap-tiap pemimpin wajib bertanggung jawab terhadap masyarakat yang dipimpinnya itu dan mempertanggung jawabkannya dihadirat Allah swt atas apa-apa yang telah ia lakukan sebagai pemimpin. (bertanggung jawab terhadap masyarakat dan kepada Allah swt).

Cobalah perhatikan sabda Nabi Muhammad saw. berikut ini:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ, اَلاِ مَامُ رَاعٍ وَمَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ, وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِيْ اَهْلِهِ وَهُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِه, وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَّةٍ فِيْ بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْؤُوْلَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا, وَالْخَادِمُ رَاعٍ فِيْ مَالٍ سَيِّدِهِ وَمَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ, وَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ (رواه البخارى)
Artinya:
1.Tiap-tiap seorang daripada kamu itu pengurus dan tiap-tiap seorang dari kamu akan diperiksa dari hal urusannya. 2. Tiap-tiap seorang raja itu pengurus dan akan diperiksa dia dari hal urusannya. 3. Dan tiap-tiap seorang laki-laki itu pengurus ditentang anak istrinya dan dia akan diperiksa dari hal urusannya. 4. Tiap-tiap seorang perempuan itu pengurus dirumahtangga lakinya dan akan diperiksa dia dari hal urusannya. 5. Tiap-tiap seorang buruh itu pengurus ditentang harta benda tuannya dan akan diperiksa dia dari hal urusannya. 6. Dan tiap-tiap seorang dari pada kamu itu pengurus dan akan diperiksa dia dari hal urusannya.
(HR. Bukhary) 
Kamu semuanya adalah Pemimpin, sedangkan tiap-tiap pemimpin itu akan diperiksa dari hal kepemimpinannya oleh Allah swt.
1. Seorang Raja (Kepala Negara) itu adalah pemimpin rakyat dia akan diperiksa dari hal urusannya oleh Allah swt.
2. Seorang laki-laki itu juga adalah pemimpin ahlinya (keluarganya), juga akan diperiksa atas kepemimpinannya.
3. Seorang perempuan  (istri) itu adalah pemimpin rumah tangga suaminya, juga akan diperiksa tentang hal kepemimpinannya.
4. Karyawan (buruh) itu juga pemimpin dari harta benda tuannya (majikannya), juga akan diperiksa atas urusannya.
5. Tegasnya kamu semuanya adalah pemimpin, tiap-tiap pemimpin bertanggung jawab atas kepemimpinannya dihadirat Allah swt.

Jadi jelaslah bahwa apabila seorang pemimpin tidak percaya kepada dirinya sendiri sudah tentu yang dipimpinnya-pun akan rusak dan hancur.

Perhatikan sejarah Fir'aun !
Fir'aun adalah seorang Raja (Pemimpin) yang tidak percaya kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa dan Allah itu Maha Mengetahui yang nyata dan yang ghaib.

Tahukah kamu sekalian apakah yang terjadi ditengah-tengah kehidupan masyarakat yang demikian itu?
Wahai anak-anakku:
Berdiri bulu roma kita kalau kita perhatikan dengan seksama/teliti, dimana ditengah-tengah kehidupan yang demikian ini masyarakatnya menjadi kacau balau, tipu-menipu  dan perjudian dalam segala bentuk dan corak, tumbuh dengan suburnya. Kemudian tindakan-tindakan keji dan kejam berlaku dan berjalan dengan seenak-enaknya saja.

Cobalah perhatikan semuanya itu!
Coba engkau lihat itu manusia-manusia sudah sedemikian buasnya, yang kuat menindas yang lemah, yang kaya mengisap si miskin, pembesar/pemimpin menghimpit rakyat.

Durhaka dan maksiat menjadijadi, hidup dengan suburnya dan sudah menjadi ikutan/pasaran umum, yang akhirnya lenyaplah segala kebaikan dimuka bumi ini, maka hancurlah sendi-sendi kehidupan manusia yang beradab dan seiring dengan itu semua adzab datang menimpa umat.

Betapa tidak wahai anak-anakku!
Allah akan menurunkan adzab-Nya dan bertebaranlah adzab itu disana sini, dimana kesemuanya akibat dari perbuatan pemimpin yang tidak percaya kepada dirinya juga tidak percaya kepada Allah swt. dan inilah raja (pemimpin) yang dhalim.

Inilah suatu gambaran yang nyata dan dapat dengan mudah dipahami serta kamu rasakan.

IV.  Marilah kita memohon perlindungan kepada Allah swt. semoga kita sekalian ini tetap berada dalam bimbingan serta peliharaan-Nya dan dijauhkan dari bala bencana serta adzab yang sangat dahsyat itu. amiin.

V.   Wahai anak-anakku sekalian:
Perhatikan nasihat dan wasiatku ini,
1.    Hendaklah kamu takut kepada fitnah (kecelakaan) yang tidak hanya akan mengenai orang-orang yang dzalim diantara kamu saja.
2.    Sungguh apabila manusia (kamu) sekalian melihat orang-orang yang dhalim itu berbuat kedzalimannya, tetapi kamu sekalian selaku raja (pemimpin) membiarkan dia (tidak selamatkan dia) dari kedhaliman itu niscaya Allah swt. mengumunkan adzabnya atas mereka semuanya.

VI.   Anak-anakku, Cobalah kamu mengamalkan nasihat serta wasiatku ini, cara pengamalannya kau mulai dari masyarakat yang kecil (rumah tanggamu sendiri) lalu sampaikan kepada tetanggamu dan selanjutnya kampung, desa, akhirnya masyarakat kota.

Sedangkan sasaran yang paling utama adalah masyarakat yang tergolong dalam kelompok Ash Habul Yamiin (masyarakat beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa), kemudian barulah kau lanjutkan kepada masyarakat yang tidak beriman dan seterusnya masyarakat banyak.
Apakah yang harus kau lakukan/perbuat dalam hal ini?

Jawabnya mudah sekali, yaitu:
Ajaklah semua manusia/umat ini kepada jalan Tuhan, utamakan pembinaan mental dan spiritual.Hidupkan dan tumbuhkan didada (jiwa) mereka agar mereka:

1.    Percaya kepada diri sendiri.
2.    Percaya kepada Allah swt. Tuhan Yang Maha Esa.

Adapun cara-caranya ikutilah petunjuk-petunjukku sebagai berikut:
a.    Hendaklah kau pergunakan kebijaksanaan.
b.    Pergunakanlah taktik-taktik yang baik.
c.  Ajaklah mereka bertukar pikiran/pendapat, dengan cara-cara yang lebih baik yaitu:
1.  Dengan memberi nasihat-nasihat yangbaik.
2.  Dengan menyelenggarakan pendidikan.
3.  Dan lain-lain yang kiranya bermanfaat untuk itu.

Akhirnya sediakanlah dan persiapkanlah dirimu sekalian ini wahai anak-anakku, untuk dapat mengamalkan apa-apa yang telah kuwasiatkan/kunasihatkan terdahulu serta yang kemudian ini:
1.    Berlomba-lomba kamu berbuat kebaikan.
2.    Bahwasanya kamu (mukmin) itu tidak lain adalah saudara kepada yang lain (bersaudara). Oleh sebab itu buatlah ishlah (damai) antara saudara kamu keduanya dan berbaktilah kepada Allah swt. agar kamu sekalian mendapat rahmat-Nya.
3.    Tidak kamu dinamakan orang-orang mukmin kecuali yang percaya kepada Allah swt. dan Rasul-Nya, serta tidak ragu-ragu dengan bekerja bersungguh-sungguh dijalan Allah dengan hartanya, pikirannya. Mereka inilah orang-orang yang benar, yaitu:
a.    Percaya kepada diri sendiri.
b.    Percaya kepada Allah swt.
c.    Percaya kepada masyarakat.
4.    Wahai orang-orang mukmin!
Patuh dan tunduklah kamu sekalian kepada peraturan/hukum-hukum Allah dan sebagai tanda kamu patuh (patuhmu itu) ialah perhatikan amal-amal/perbuatanmu untuk kemudian hari, sebab Allah Maha Mengetahui apa-apa yang kamu perbuat.
5.    Jangan kamu menjadi orang yang lalai kepada Allah swt. nanti kamu akan lalai pula atas dirimu sendiri, perbuatan yang demikian adalah rusak dan merusak masyarakat.
6.    Berbuat baiklah kepada Bapak-bapak kamu, niscaya anak-anak kamu nanti akan berbuat baik kepada kamu dan peliharalah kehormatan diri kamu niscaya isteri-isteri kamu akan pelihara kehormatan diri mereka.
7.    Perhatikanlah oleh kamu sekalian akan makhluk Allah dan janganlah kamu berpikir kepada/tentang dzat Allah karena kamu tidak akan dapat mengukurnya.
8.    Bandingan orang-orang mukmin ditentang bercintaan dan berkasih-kasihan serta bertolong-tolongan itu adalah seperti satu badan (jasmani).
Apabila sakit salah satu anggotanya (tubuh), maka terasa sakit seluruh anggota tubuh itu, sehingga tidak bisa tidur serta demam (gemetar) tubuh itu seluruhnya.

VI.   Akhir kata demikianlah dulu nasihat/wasiatku ini kepada kamu sekalian, semoga engkau semuanya ini dapat kiranya berbuat/mengamalkannya.

Kemudian daripada semua ini, aku berdoa semoga Allah swt menambahkan ilmu-Nya yang bermanfaat/berguna dan ditambahkan kesehatan serta kecerdasan kita sekalian. Amin amin amin Yaa Rabbal aalamiin.

KH. Muhammad Natsir Abdullah


( Cetak Ulang )